Hilal Tak Tampak di Langit Cirebon, Awal Ramadan 1447 H Diprediksi Mundur
- visibility 16

Oplus_131072
CIREBONMETROPOLITAN.COM – Hilal Tak Tampak di Langit Cirebon, Awal Ramadan 1447 H Diprediksi Mundur | Pemantauan hilal penentu awal Ramadan 1447 Hijriah di pesisir Pantai Baro Gebang, Kabupaten Cirebon, Selasa (17/2/2026), menunjukkan hasil nihil…
Secara astronomis, posisi bulan sabit muda berada di bawah ufuk barat, sehingga mustahil terlihat saat matahari terbenam.
Kepala Badan Hisab Rukyat Daerah (BHRD) Kabupaten Cirebon, Samsudin, menjelaskan bahwa memangg sejak awal peluang terlihatnya hilal memang sangat kecil Sekali.
Begitu juga dengan berdasarkan perhitungan ilmu falak, ketinggian hilal berada pada posisi minus 0 derajat.
“Secara hitungan, hilal tidak mungkin terlihat karena posisinya masih di bawah ufuk. Jadi dari sisi teori ilmu falak, memang tidak memungkinkan,” ujarnya di lokasi pemantauan.
Selain faktor posisi bulan yang rendah, cuaca mendung tebal juga, kata dia, menutup langit senja, sehingga observasi visual semakin sulit dilakukan.
Meski peluangnya hampir tidak ada, rukyatul hilal tetap dilaksanakan. Hal itu sebagai bagian dari prosedur penetapan awal bulan Hijriah.
Pengamatan dimulai pukul 18.08 WIB dengan pemasangan sejumlah teleskop yang diarahkan ke barat laut.
Kegiatan ini melibatkan Tim Rukyat Hilal, Pengamat Hilal LDII, tokoh agama, perwakilan Kementerian Agama dari Cirebon, Majalengka, dan Kuningan, serta aparat keamanan.
Proses rukyat dipimpin Hakim Ketua Pengadilan Negeri Sumber, didampingi panitera pengganti, dan disaksikan tiga saksi dari Kementerian Agama yang telah diambil sumpahnya.
Samsudin menegaskan, rukyat tetap dilaksanakan meski secara teori tidak memungkinkan.
“Karena mazhab rukyah, pengamatan tetap harus dilakukan walaupun secara hisab hilal tidak mungkin terlihat,” katanya.
Menurut Samsudin, hilal baru bisa terlihat jika memenuhi kriteria imkanur rukyat, yakni ketinggian minimal 3 derajat dengan elongasi 6,4 derajat. Dan kondisi saat ini, jauh dari syarat tersebut.
“Hilal kita minus 0 derajat, sementara standar minimal 3 derajat. Jadi jelas tidak akan terlihat,” jelasnya.
Langit yang dipenuhi awan abu-abu kebiruan saat senja, juga turut menghambat proses pengamatan. Meski secara teori pun hilal di bawah 3 derajat tidak mungkin terlihat.
Jika hilal tidak terlihat di seluruh wilayah Indonesia, maka penentuan awal Ramadan akan menggunakan metode istikmal, yakni penyempurnaan bulan Sya’ban menjadi 30 hari.
“Itu berarti awal Ramadan diperkirakan masih dua hari lagi,” ujar Samsudin.
Ia pun mengimbau masyarakat untuk menunggu keputusan resmi pemerintah melalui sidang isbat sebagai penetapan awal Ramadan.
Masyarakat diharapkan mengikuti keputusan pemerintah karena penetapan awal bulan dilakukan oleh para ulama melalui sidang isbat,” pungkasnya.
- Penulis: CIREBON METROPOLITAN







