Semarak Ramadan Cirebon Festival 2026 Jadi Momentum Kebangkitan UMKM
- visibility 121

CIREBON
CIREBONMETROPOLITAN.COM – Semarak Ramadan Cirebon Festival 2026 Jadi Momentum Kebangkitan UMKM | Pemerintah Kota (Pemkot) Cirebon menghadirkan gelaran Festival Ramadhan 1447 Hijriah/2026 di sepanjang Jalan Siliwangi, sebuah inisiatif strategis yang tidak hanya menyemarakkan bulan suci namun juga menguatkan peran pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Langkah ini dipandang sebagai peluang penting untuk menggerakkan ekonomi lokal sekaligus menciptakan suasana Ramadan yang dinamis dan produktif di pusat kota.

Festival Ramadan: Wadah UMKM dan Ruang Ekonomi Publik
Festival Ramadan 1447 H di Kota Cirebon akan diselenggarakan sepanjang Ramadan dengan titik fokus di Jalan Siliwangi. Ruas jalan protokol yang terkenal ramai itu disulap menjadi sentra aktivitas UMKM, di mana ratusan pedagang lokal diberikan kesempatan berjualan tanpa biaya sewa atau retribusi.
Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil, Menengah, Perdagangan dan Perindustrian (DKUKMPP) Kota Cirebon, Iing Daiman, menegaskan bahwa Pemkot telah menyiapkan 504 lapak sepanjang lokasi yang dimulai dari area depan Pasar Pagi hingga sebelum Perempatan Krucuk. Semua pedagang UMKM yang terdaftar dapat memanfaatkan lapak tersebut secara gratis, dengan tujuan utama memberi ruang berusaha bagi warga.
Menurut Iing, hingga pertengahan pendaftaran sudah lebih dari 60 persen lapak terisi, dan antusiasme pelaku UMKM terlihat tinggi. Wadah dagang ini dipastikan dapat menampung beragam produk, dari kuliner berbuka puasa hingga barang fesyen dan kebutuhan sahur.
Pengaturan Operasional dan Kenyamanan Publik : Penyelenggaraan festival tidak hanya soal ruang berjualan, tetapi juga melibatkan pengaturan teknis yang cermat untuk menjaga kenyamanan masyarakat. Festival akan beroperasi mulai sore menjelang berbuka hingga dini hari — tepatnya pukul 15.00 WIB sampai pukul 04.00 WIB — agar kesempatan berusaha bisa dirasakan sepanjang Ramadan.
Meskipun aktivitas perdagangan berlangsung ramai di kawasan Jalan Siliwangi, pihak pemerintah menegaskan bahwa arus lalu lintas tetap berjalan normal. Lapak dagang hanya menempati bahu jalan kanan dan kiri selebar dua meter untuk meminimalkan gangguan pada kendaraan yang melintas.
Untuk kenyamanan pejalan kaki, pedagang dilarang menggunakan trotoar, dan sejumlah area penting seperti depan Balai Kota, Alun-alun, dan Rumah Sakit Sumber Kasih dipastikan tetap bersih dari lapak. Penyediaan kantong parkir juga disiapkan agar pengunjung festival bisa menikmati suasana tanpa menimbulkan kepadatan berlebihan.

Momentum Ekonomi dalam Bulan Suci : Wali Kota Cirebon, Effendi Edo, memandang Ramadan bukan hanya soal ibadah, tetapi juga waktu yang tepat untuk menghidupkan suasana perekonomian kerakyatan. Melalui penyediaan ruang usaha tertata ini, Pemkot memberikan kesempatan luas bagi para pelaku UMKM — termasuk penjual takjil, minuman, dan kopi — untuk menambah penghasilan di periode yang memiliki potensi pasar besar.
Menurut Effendi, lokasi di sepanjang Jalan Siliwangi dipilih karena strategis, memiliki daya tarik tinggi, serta mampu menjadi magnet aktivitas publik. Dengan pengaturan jadwal yang sistematis, kegiatan berjualan diharapkan dapat berlangsung produktif, tanpa mengganggu ketertiban umum maupun kenyamanan lingkungan sekitar.
Pendekatan ini selaras dengan upaya Pemkot Cirebon sebelumnya untuk memberi ruang bagi pelaku usaha kecil agar aktivitas UMKM tetap hidup dan berkembang selama Ramadan, termasuk pengaturan waktu operasional yang fleksibel bagi penjual takjil dan kopi agar mereka bisa menyesuaikan dengan ritme ibadah masyarakat.
Dampak Lebih Luas Terhadap Kehidupan Kota : Penyelenggaraan Festival Ramadan 1447 H di Jalan Siliwangi bukan hanya berarti lapak dagang di jalanan. Ini juga berdampak pada:
- Pertumbuhan ekonomi lokal: UMKM mendapatkan akses pasar lebih luas, terutama pada jam-jam puncak ngabuburit dan sahur.
- Kehidupan sosial masyarakat: Warga memiliki ruang berkumpul yang aman, tertata, dan aktif secara ekonomi.
- Penguatan citra kota: Suasana kota semakin hidup, khususnya di kawasan pusat kota yang menjadi daya tarik wisatawan lokal selama bulan suci.
Selain kegiatan bazar kuliner dan barang UMKM, momentum Ramadan juga digunakan untuk menerapkan nilai gotong-royong dan kolaborasi masyarakat dengan aparat pemerintah dalam menjaga kebersihan, keamanan, dan kenyamanan ruang publik.
Festival Ramadan dalam Perspektif Tradisi Lokal : Historisnya, kota Cirebon telah mengenal event-event bernuansa Ramadan sebelumnya—seperti Festival Ramadan 2025 yang menonjolkan lomba tradisi obrog, peragaan busana muslim, serta bazar takjil yang menjadi ruang budaya sekaligus ekonomi. Inisiatif itu ditempuh untuk memperkaya pengalaman komunitas selama puasa.
Sementara gelaran 2026 ini lebih memusatkan fokus pada pemberdayaan UMKM dan perputaran ekonomi, acara serupa di masa lalu juga menunjukkan bagaimana Ramadan menjadi momen untuk menguatkan tradisi sekaligus memberi ruang kreatif bagi warga.
Festival Ramadhan 1447 H di Cirebon merupakan contoh nyata bagaimana pemerintah daerah memanfaatkan momen keagamaan untuk menciptakan dampak ekonomi yang lebih luas. Dengan memberikan ruang gratis bagi UMKM, mengatur operasional secara ketat, serta menjaga kenyamanan publik, Pemkot Cirebon berupaya menjadikan Ramadan bukan hanya waktu ibadah, tetapi juga fase produktif dalam kehidupan ekonomi dan sosial kota.
Baca Juga :
Hilal Tak Tampak di Langit Cirebon, Awal Ramadan 1447 H Diprediksi Mundur
- Penulis: CIREBON METROPOLITAN







